Cinta-Kasih-Sayang VS/CS Akal-Perasaan-Agama

 
cinta-kasih-sayang vs akal-perasaan-agama
atau
cinta-kasih-sayang cs akal-perasaan-agama
 

Pada bulan Februari banyak muda-mudi merayakan Hari Valentin dan terkesan mewajibkan pasangannya untuk memberikan sesuatu pada hari tersebut. Untuk itu coba kita lihat "Sejarah Kisah Kasih 14 Februari" yang pernah ditulis Kompas.
 
Usai mempersembahkan kambing dan minum anggur, para pendeta berlari berhamburan di jalan-jalan
kota. Tak lupa, mereka pun menggenggam potongan-potongan kulit kambing kurban tadi. Mereka juga menyentuh siapa saja yang mereka jumpai. Nah, biasanya, perempuan-perempuan mudalah yang sangat ingin disentuh dengan potongan-potongan kulit kambing seraya berharap beroleh karunia kesuburan berikut bisa melahirkan dengan mudah. "Demi Lupercus!" begitulah kira-kira teriakan mendamba para perempuan untuk anugerah tersebut.
 
Ya, Lupercus, dewa yang sosoknya digambarkan setengah telanjang berpakaian kulit kambing itu adalah nama yang acap diteriakkan penduduk Roma kuno pada perayaan Lupercalia, tiap 15 Februari, kala itu. Lalu, di jiran Roma, Grekia yang beribu kota di Athena, kesuburan - diawali dengan cinta, tentu saja - hitung-hitungan kalender tengah Januari hingga tengah Februari adalah Bulan Gamelion. Pada bulan itulah segala persembahan diunjukkan terkait dengan pernikahan suci Dewa Zeus dengan Hera.  
 
Lalu apa hubungan perayaan bagi dewa-dewi itu dengan hari kasih sayang yang kini diperingati tanggal 14 Februari?
 
Masih di Roma, cerita tentang cinta dan kasih sayang memang beragam. Namun nama yang paling sering disebut dan dihubungkan dengan perayaan Valentine adalah "Valentinus" yang sejatinya sukar dicari keterhubungannya. Soalnya, nama itu menunjuk pada nama seorang pastor di Roma, nama seorang uskup, dan nama seorang martir di provinsi Romawi Afrika.
 
Tapi bahwa 14 Februari kemudian ditetapkan sebagai Hari Raya Santo Valentinus, kabarnya, merupakan langkah yang diambil Paus Gelasius I pada 496 sesudah Masehi untuk sedikit banyak mengungguli perayaan Lupercalia, sehari sesudahnya. Selanjutnya, pada abad pertengahan, khususnya, di Inggris dan Prancis, 14 Februari adalah hari yang dipercaya sebagai hari tatkala burung mencari pasangannya untuk kawin.
 
Sementara, saat ini, Hari Valentine atawa Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari juga, lebih menonjol tampil dalam perwujudan cinta kasih sepasang lelaki perempuan yang tengah kasmaran bersimbol mulai dari kartu ucapan hingga bunga mawar serta penganan cokelat. Walau, sesungguhnya, cinta kasih tak cuma berhenti pada terminal mabuk asmara.
 
Maka dari itulah, memaknai Hari Valentine menjadi pilihan amat pribadi bagi khalayak masa kini. Boleh bertukar sapa maupun benda hingga saling menabur salam doa. Bukan untuk dijadikan silang-selisih karena sejatinya, cinta kasih adalah anugerah dari Yang Mahatinggi. (Josephus Primus)    
 
http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.02.14.17295549&channel=&mn=35&idx=68

Dalam hal ini saya tidak akan membahas masalah "Halal-Haram" merayakan Hari Valentine. Tetapi sekedar mengingatkan teman2 yang "merayakan hari Valentine" biasanya lupa dengan esensi "Cinta" itu sendiri. Padahal tanpa adanya Hari Valentine, dalam diri manusia akan selalu ada Cinta-Kasih-Sayang.
 
Apakah ada larangan ketika ada manusia sedang berkasih sayang ?
 
Secara logika maupun religi (agama), manusia yang merasakan cinta – kasih – sayang adalah sesuatu yang lumrah dan sudah seharusnya manusia merasakan hal itu. Jika ada manusia yang tidak pernah merasakan perasaan tersebut, baiknya segera menemui psikiater (ahli jiwa). Cinta – kasih – sayang (CKS) memiliki makna yang sangat luas, karena yang terlibat dalam masalah CKS  itu tidak hanya melibatkan orang per orang, tapi satu keluarga, satu RT, satu RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan juga Negara – Benua hingga seluruh Dunia. Bahkan CKS itu bisa melibatkan antara yang nyata dengan yang gaib, bahkan antara yang hidup dengan yang mati.
 
Yang menjadi permasalahan dalam masalah CKS itu adalah ketika yang terlibat dalam masalah CKS mencapai titik ”mabuk CKS” ?! Sudah banyak contoh di dunia ini yang mencapai mabuk CKS, diantaranya ketika ada orang yang rela membunuh orang lain karena cintanya ditolak; ada orang yang berani bunuh diri ketika cintanya kandas ditengah ”samudera CKS”; bahkan lebih luas lagi kita juga melihat contoh ketika terjadi Perang Dunia I dan II ada beberapa negara yang ”dimabuk CKS” ras / tanah air / politik / kekuasaan, berani menyerang negara lain hingga melibatkan hampir seluruh Benua dan menyebabkan ratusan – ribuan – jutaan orang meninggal.
 
Lalu bagaimana seharusnya manusia ber-CKS, jika dalam CKS itu ada ”indah”, ”manis” hingga ”hangat” tetapi dalam CKS juga bisa menimbulkan ”rusak”, ”pahit”, hingga ”panas” ?!
 
Itulah yang dinamakan resiko CKS. Manusia harus tahu resiko CKS, ketika menjalani CKS dengan baik dan benar pastinya akan mencapai sisi positifnya CKS. Tetapi ketika manusia menjalani CKS dengan tidak baik dan tidak benar bahkan ”CKS yang terlarang” maka yang didapat adalah sisi negatif dari CKS.
Manusia harus menjalani hidup dengan akal, perasaan dan agama (APA). Dan ketiganya tidak bisa pisah-pisah dalam hidup. Tidak bisa dalam hidup manusia hanya menggunakan akal saja tanpa menggunakan perasaan dan agama. Apa jadinya manusia yang hidup hanya menggunakan akalnya saja? Manusia itu pasti akan seperti robot yang hanya berfikir tanpa berperasaan dan manusia itu menjalankan hidup ”otoriter” bahkan manusia itu bisa tidak percaya dengan adanya Tuhan.
 
Dalam hidup manusia juga tidak bisa hanya menggunakan perasaan, jika manusia hidup selalu dengan perasaan maka yang terjadi adalah ”kegilaan” karena manusia itu akan selalu dibayangi dengan ”perasaan-perasaan” yang belum tentu terjadi.
 
Dan manusia juga tidak bisa hidup hanya berputar dengan masalah agama saja. Manusia itu pasti akan tinggal di Masjid, di Gereja atau di kuil-kuilnya saja dan meninggalkan dunia bahkan tidak mau terlibat dengan masalah dunia. Dari sisi Islam sendiri kita diajarkan untuk balance (seimbang) antara dunia dan akhirat. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin hidupnya oleh Allah SWT mencontohkan kita untuk berusaha dalam hidup di dunia ini.
 
Lalu apa hubungan CKS dengan APA ini ?
 
Hubungan antara CKS dengan APA sangatlah penting. Seperti yang telah diterangkan di atas, manusia tidak bisa hidup tanpa CKS dan manusia juga tidak bisa meninggalkan APA.
 
CKS tidak bisa muncul dan berjalan dengan baik tanpa menggunakan APA karena buah dari APA salah satunya akan menciptakan CKS.
 
Dan untuk menghindari ”mabuk CKS” adalah dengan APA.
 
Sekarang tinggal manusia itu memilih CKS vs APA atau CKS = APA ?.....

apakabar mas catoer.. piye

apakabar mas catoer..
piye kabare...
kok gak gabung kita neh..
emailmu sek aktif opo yoh..

Powered by Drupal - Design by artinet

Listed on: Online Free Directory Submission BACK-LINKS and PAGE-RANK WEB DIRECTORY

Free targeted website traffic - www.ad-traffic.net

BlogCatalog