Dunia tempat menanam untuk akherat
Adanya hidup dan kehidupan di akherat diyakini sebagai sambungan dari adanya hidup dan kehidupan di dunia ini bagi orang –orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Buah kenikmatan hidup di akherat kelak hanya akan dipetik oleh orang-orang yang menanam pohonnya ketika masih hidup di dunia. Menanam padi akan tumbuh rumput yang mengelilingi padi itu, tetapi menanam rumput tidak akan tumbuh padi yang mengelilingi rumput itu. Nah sejak sekarang di dunia ini kita harus berusaha menanam yang dapat berbuah kenikmatan di akherat kelak.
Memperhatikan petunjuk Alloh dengan Firman-Nya tersebut diatas menjadi lebih jelas bagi orang-orang yang beriman, bahwa akherat dengan segala fasilitas kehidupannya adalah benar-benar merupakan sambungan dari adanya kehidupan di dunia yang sekarang ini. Barangsiapa coba-coba memotong kehidupan dunia dari kehidupan akherat dengan cara lebih mementingkan kehidupan tanpa peduli kehidupan akherat, maka ia akan diberi juga oleh Alloh apa yang ia usahakan untuk dunianya itu, tetapi –tidak ada baginya suatu kebahagiaanpun di akherat-
Maksudnya, orang ketika masih hidup di dunia ini sanggup mengatur waktu, tenaga, fikiran dan hartanya untuk memperoleh keberuntungan di dunia yang sekarang ini dan di akherat kelak, berarti dia adalah orang yang menanam untuk dunia dan juga untuk akheratnya. Akan tetapi biasanya orang akan lupa kepentingan akherat manakala telah disibukkan urusan dunia.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (dari ketaatan) sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu)” (Q.S. 102 At Takatsur: 1-3).
Orang yang fikirannya disibukkan oleh kepentingan dunia dan ia tidak bisa membagi waktu untuk berfikir tentang akherat, biasanya peristiwa ini akan berlangsung lama bahkan sampai maut menjemputnya tidak disadarinya. Itulah sebabnya Alloh melarangnya dengan kalimat-Nya : “Kalla” (janganlah begitu) “Saufa ta’lamun” (kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatnmu).
Maksudnya, akhirilah sampai disini saja fikiranmu dicurahkan hanya untuk “takatsur”(bermegah-megah) dengan banyaknya harta, tingginya pangkat dan jabatan, gila hormat dan sanjungan san seterusnya sampai “alhaakum”(melalaikan kamu) untuk taat kepada Alloh dan berfikir tentang akherat tempat kembali kita yang selama-lamanya. Padahal hidup didunia tidak hanya untuk dunia melainkan untuk dunia akherat yang abadi itu, dan dunia adalah tempat berladang untuk akherat, yaitu dunia inilah kendaraan yang akan membawa kita ke akherat.
Rosululloh s.a.w. mengingatkan kita dengan sabdanya “Bukanlah orang yang baik dari kamu orang yang meninggalkan dunianya hanya untuk akheratnya saja, dan juga bukan orang yang baik dari kamu orang yang meninggalkan akheratnya hanya untuk dunianya saja, sehingga memperoleh dari keduanya semuanya, karena sesungguhnya dunia itu akan mengantar ke akherat, dan janganlah kamu menjadi beban tanggungan orang lain. (H.R. Ibnu “Asakir, dalam kitab Jami’ush-shaghier:juz 2, halaman 135, pada baris 28-29 dari atas)
Jadi manusia yang hidupnya disibukkan untuk urusan dunia saja adalah tidak benar dan bukan manusia yang baik disisi Alloh, demikian juga manusia yang hidupnya hanya disibukkan untuk kepentingan akherat saja dan harus meninggalkan urusan dunianya adalah tidak benar dan bukan manusia yang baik. Hal macam ini hanya akan dimengerti oleh manusia yang bisa membagi umur untuk ngaji mencari petunjuk Alloh dan Rosul sehingga tahu tugas hidupnya di dunia ini sebelum kembali ke akherat yang abadi kelak, bahwa hidup di dunia ini adalah untuk dunia dan akherat.
Dunia tidak terpisah dengan akherat melainkan “Fainnaddunnya balaghun ilal akhirati”(karena sesungguhnya duni itu akan mengantar ke akherat). Jadi dunia ini adalah jembatan menuju akherat.
Ingat! “Fikir tanpa dzikir adalah celaka” dan “akal tanpa agama adalah berbahaya” sebab menjadi tidak agamis dalam berfikir dan melangkahnya melainkan menjadi sekularis.
Tindakan merampok bahkan merampas nyawa manusia, menjadi koruptor tingkat kakap maupun tingkat teri dan tindakan kezhaliman lainnya adalah perilaku manusia yang punya akal tetapi tidak dikendalikan agama, dan punya fikiran tetapi tidak dibarengi dzikir, yakni menjadi tidak ingat batas-batas yang halal dan yang haram. Beriman, beribadah dan beramal sholeh adalah tanaman untuk akherat.














Komentar
4 weeks 16 hours ago
6 weeks 3 days ago
9 weeks 3 days ago
10 weeks 12 hours ago
11 weeks 4 hours ago
11 weeks 4 days ago
12 weeks 1 day ago
12 weeks 6 days ago
13 weeks 4 days ago
14 weeks 3 days ago